Rabu, 02 Desember 2015

Holistik dan Resep Kehidupan


Sebelum manusia dicipta, semua makhluk dan proses alam yang ada masih dalam evolusi “pikiran taksadar”, artinya semua proses masih bersifat “linier” hukum tetapan alam yang dicipta Allah. Struktur air misalnya, baik secara kimia ataupun fisika dimanapun berada akan bersifat sama. Kehidupan biologis hewan dan tumbuhan juga bersifat “insting mekanik” yang berlaku universal. Namun sejak manusia tercipta dan terlahir, evolusi “sadar” mulai tercipta. Manusia dengan kemampuan dan keajaiban pikirannya, mampu memilih dan membuat “proses sintesa” yang mempengaruhi kehidupan alam semesta. Karena “keutamaan” itulah, sehingga Allah memberikan tugas sebagai “khalifah di bumi”, artinya mengatur dan mengelola alam semesta untuk kebaikan semua.

Namun dalam perkembangannya, banyak hal yang “terlupakan dan terabaikan”. Sebagian besar manusia “melekat dan dilekati” ego dan keinginan untuk menguasai alam secara liar dan tidak bertanggung jawab. Banyak tatanan lingkungan dan masyarakat yang rapuh dan rusak. Hal ini terjadi karena manusia telah melupakan pertumbuhan “humanis”, sehingga terbentuk manusia-manusia yang sulit memahami cinta kasih dan spiritual. Seseorang yang tumbuh dalam pertumbuhan “humanis” akan sulit berbuat sesuatu yang mengganggu atau merugikan orang lain. Hal ini terjadi karena visi dan misi hidupnya adalah memberi manfaat dan kebaikan untuk sesama.

Ego merupakan benih yang harus ditetaskan agar tumbuh menjadi spiritual. Hidup yang dipenuhi ego akan selalu “berpikir” untuk mendapatkan sebanyak mungkin harta dan kekuasaan. Namun ketika spiritual mulai tumbuh dalam jiwa seseorang, maka akan terlahir manusia-manusia yang bersemangat untuk sebanyak-banyaknya memberi kebaikan. Untuk mengkondisikan dan memulihkan pertumbuhan agar bersifat humanis, diperlukan “revitalizing” yang bersifat holistik. Artinya membangun potensi manusia secara utuh dalam “totalitas”, menyatu dalam “integritas”, dan berkesinambungan dalam “vitalitas”. Membangun manusia secara holistik yang menyadari, mengerti, dan mengaplikasikan aspek logika dan hati, aspek ego dan spiritual, aspek jiwa dan raga, aspek sadar dan bawah sadar secara kreatif, selaras, dan seimbang.